<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6580342372534527552</id><updated>2011-07-31T06:47:11.639+07:00</updated><title type='text'>somewhere, anywhere, everywhere!</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://backpacker-wannabe.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6580342372534527552/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://backpacker-wannabe.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>keshie hernitaningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12617926575889130887</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6580342372534527552.post-7333515687667002082</id><published>2009-11-17T16:21:00.003+07:00</published><updated>2009-11-17T16:34:10.935+07:00</updated><title type='text'>Jadwal di KL, day two</title><content type='html'>Day 2 (Minggu, 4 Oktober 2009)&lt;br /&gt;(pakai waktu Malaysia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;07.00 berangkat ke GreenHut Lodge&lt;br /&gt;1. jalan kaki ke LCCT&lt;br /&gt;2. di LCCT, naik Sky Bus (tarif 10 RM) ke KL Sentral&lt;br /&gt;3. dari KL Sentral, naik KL Monorail ke Bukit Bintang&lt;br /&gt;4. jalan kaki ke GreenHut di Jl Tongkat Thong Sin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;09.00 sampai di GreenHut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;09.30 ke Batu Caves&lt;br /&gt;1. dari Bukit Bintang, naik KL Monorail ke St. Titiwangsa&lt;br /&gt;2. di depan St. Titiwangsa, ada halte bis. Naik bis Rapid KL U06 (tarif 2 RM) ke Batu Caves&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.00 jalan-jalan/makan-makan di sekitar Bukit Bintang&lt;br /&gt;1. dari Batu Caves, naik bis Rapid KL U06 ke St. Titiwangsa&lt;br /&gt;2. dari St. Titiwangsa, naik KL Monorail ke Bukit Bintang&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Karena baru mulai tidur sekitar jam tiga pagi, tidak heran kalau kemudian kami bangun kesiangan. Akhirnya, molor dari jadwal, kami baru check out dari Tune Hotel sekitar jam 8 lewat. Karena lapar, kami memutuskan untuk sarapan dulu di foodcourt dekat bandara yang sempat&amp;nbsp;kami &amp;nbsp;kunjungi semalam. Saya tidak biasa makan terlalu berat di pagi hari, jadi saya memutuskan untuk membeli menu sarapan anak-anak di KFC yang terdiri dari semacam kentang tumbuk yang digoreng, sepotong sosis ayam, orek telur, dan segelas Milo panas. Lumayan mahal juga, hampir 8 RM. Belakangan saya ketahui bahwa di KFC selain bandara, paket yang sama dibandrol tidak sampai 6 RM. Dasar, di mana-mana tarif makanan di bandara memang mahal. Ngomong-ngomong, kenapa ya menu sarapan semacam ini enggak ada di KFC Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai sarapan, kami menggeret koper lagi ke tempat mangkalnya bis-bis yang letaknya tidak jauh dari foodcourt. Sky bus milik AirAsia gampang dikenali karena warnanya yang serba merah. Kami langsung naik. Saya menyesal karena tidak menyimpan koper di bagasi bis, melainkan meletakkannya di bawah kaki saya. Kurang nyaman rasanya. Untung ukurannya enggak gede-gede amat. Kondisi bis cukup nyaman dan bersih, membuat perjalanan yang memakan waktu sekitar 1 jam terasa singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KL tidak kalah macet dengan Jakarta? Saya pernah membaca ini di suatu website. Tapi toh tidak terbukti. Menurut saya, kondisi lalu lintas kota ini masih jauh lebih lengang dibandingkan ibukota tempat tinggal saya tersebut. Semua mobil berjalan dengan rapi di jalurnya, dan jumlah motor juga sangat sedikit. Yang saya cukup kaget, ternyata motor boleh lewat di jalan tol! Kadang-kadang, jika jalur tol hanya ada dua, disediakan jalur kecil bagi mereka untuk lewat. Tapi jika ada 4 jalur, pengemudi motor boleh lewat di manapun, entah itu di pinggir atau tengah jalur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di KL Sentral, suasananya mirip ITC yang terdiri dari tiga lantai. Tapi waktu itu ada beberapa toko yang masih tutup, jadi belum terlalu ramai. Kami sempat kebingungan, mesti ke arah mana untuk naik monorail. Setelah tanya sana-sini, barulah saya ingat bahwa kami mesti berjalan kaki dulu keluar dari KL Sentral tersebut. Jadi lagi-lagi kami mesti menggeret koper di jalanan yang lagi-lagi tidak dirancang untuk dilewati koper :p Jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh, kira-kira 10 menit jalan kaki. Tapi karena belum tahu medannya, jadi terasa lama :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu sampai di stasiun monorail, kami langsung memesan tiket ke Bukit Bintang kepada petugas loket (tidak ada mesin penjual tiket otomatis di sini). Sewaktu melewatkan tiket sekali pakai tersebut ke mesin, saya sempat beberapa kali gagal. Ajeng dan petugas yang berjaga di sana sampai harus datang membantu saya :p Saya tidak memperhatikan bahwa si kartu harus diselipkan dengan posisi yang benar supaya si mesin mau menelannya. Mirip kartu ATM gitu deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stasiun monorail ini tidak terlalu besar, dan keretanya juga tidak sebesar MRT di Singapura. Tapi toh semua penumpang muat di situ tanpa kehilangan rasa nyaman. Mungkin karena memang sudah disesuaikan dengan rata-rata jumlah penumpang. Yang saya sukai, pegangan tangannya dipasang cukup rendah, tidak bikin tangan pegal seperti halnya pegangan tangan di Trans Jakarta (TJ). Setiap sudut kereta ini dijejali iklan. Juga setiap sudut haltenya. Pemasangnya sebagian besar adalah bank dan vendor TI. Mungkin TJ juga mesti begini supaya harganya bisa lebih rendah lagi dan enggak (katanya sih) merugi&amp;nbsp;:p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari stasiun Bukit Bintang, kami disambut oleh pemandangan yang sangat saya sukai: mal dan pertokoan :p Berbekal peta, kami menyusuri jalan sambil tengok kanan-kiri, menikmati kawasan favorit turis ini. Tidak sedikit salesman bertampang India yang menawarkan jasa tato atau pijat. Kami cuek saja sambil terus jalan dan mempelajari peta. Setelah tanya sana-sini, akhirnya ketemu juga jalan yang kami cari. Ternyata jaraknya lumayan jauh dari stasiun Bukit Bintang. Ada gang kecil yang bisa jadi jalan pintas ke GreenHut, tapi ibu-ibu yang kami tanyai mewanti-wanti (terjemahannya kira-kira begini), "Jangan lewat situ. Daerahnya sepi. Lebih aman memutar di sana saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fuih, akhirnya kami tiba juga di GreenHut. Tak sulit sebenarnya mengenali tempat ini, karena, sesuai namanya, seluruh bodi gedung dicat warna hijau. Setelah copot sepatu (sesuai aturan yang ditulis di dekat pintu masuk), kami menghampiri bapak-bapak tua yang berdiri di belakang kasir. Gayanya awet muda banget, dan dia terlihat gembira begitu tahu bahwa kami berasal dari Indonesia. "Then I'll speak to you in Malaysian okay!", ujarnya. Tapi toh kami tetap meneruskan percakapan dalam bahasa Inggris :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat ada argumentasi soal apakah kamar yang saya pesan adalah double ensuite (kamar untuk 2 orang dengan kamar mandi dalam) atau double room dengan shared bathroom (kamar mandi luar). Tapi akhirnya, setelah melihat kondisi kedua kamar, kami memutuskan untuk tinggal di double room ensuite. Pilihan yang kami anggap lebih tepat, karena double room dengan shared bathroom ada di lantai dua yang mesti dilalui dengan naik 4 kelompok anak tangga--capek sekali untuk mencapainya! Sedangkan double room ensuite ada di lantai satu--dekat kasir, ruang TV, dan ruang makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah rehat sebentar, jam 11 lewat kami berangkat ke Batu Caves. Sempat tanya-tanya sebentar soal transportasi ke sana pada si bapak, tapi jawabannya malah membingungkan saya yang sudah memegang jadwal dengan petunjuk yang disarankan oleh teman-teman di milis indobackpacker. Akhirnya kami memutuskan untuk tidak mengikuti petunjuk si bapak dan go sesuai jadwal :p Tapi saya sempat bertanya di mana stasiun monorail terdekat, mengingat stasiun Bukit Bintang cukup jauh jaraknya dari situ. Akhirnya pergilah kami ke Stasiun Raja Chulan, yang memang terasa lebih dekat, apalagi dengan kondisi kami tidak lagi menyeret koper :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Stasiun Raja Chulan, kami membeli tiket menuju ke Stasiun Titiwangsa yang merupakan pemberhentian terakhir. Tiba di sana, kami melihat ada halte bis di seberang sana maka menyeberanglah kami melalui jembatan penyeberangan yang tersambung dengan stasiun monorail. Lalu duduklah kami menunggu bersama calon penumpang lainnya. Sempat ada kejadian lucu di sini. Ada dua ibu-ibu yang duduk di sebelah saya, dan salah seorang di antaranya sempat memperhatikan saya lalu ngomong sesuatu dalam bahasa Cina. Saya duga sih dia mengira saya adalah seseorang yang dia kenal. Saya menggeleng-geleng sambil bilang, "I don't think so." Entah dia mengerti atau tidak. Tapi sepertinya ia mengerti karena kemudian ia diam, mungkin merenung kenapa bisa salah duga. Akhirnya si ibu itu pergi, meninggalkan temannya sendirian. Tak tahan lama menunggu tanpa kejelasan karena bis-nya belum lewat juga, bertanyalah saya pada si ibu-ibu yang kini seorang diri di sebelah saya dengan kata kunci "bus" dan "Batu Caves". Belum sempat menjawab, tahu-tahu si ibu menunjuk bis U06 yang baru lewat, bersamaan dengan Ajeng yang mengenali tulisan "Batu Caves" yang ditampilkan di pintu bis. Kebetulan yang menyenangkan :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama di luar negeri, saya kurang suka naik bis kota. Waktu di Singapura, saya dan dua orang teman pernah nyasar karena salah naik bis. Di Taipei, saya pernah dimarahi supir dan penumpang lainnya karena dianggap tidak mau membayar, padahal saya pikir bayarnya nanti setelah turun dari bis :p Singkatnya, sedikit pengalaman indah saya dengan transportasi yang namanya bis kota. Aturan di KL, kita mesti menyiapkan uang pas (karena kalau lebih tidak akan dikembalikan) dan memasukkannya ke dalam semacam boks dengan celah kecil untuk memasukkan uang, lalu menunggu supir mencetak karcis untuk kita sebagai bukti pembayaran. Kalau calon penumpangnya enggak banyak, proses ini memang tidak begitu merepotkan. Tapi saya pernah melihat antrian yang cukup panjang di pintu masuk bis dan bertanya-tanya, kok aturan yang enggak praktis gini masih dipiara ya? Untungnya, orang-orang terlihat santai saja, tidak ada yang menerobos antrian atau semacamnya. Yah, mungkin karena sudah terbiasa :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan ke Batu Caves, yang kami tidak tahu harus berhenti di halte mana dan seperti apa tampak luar Batu Caves itu, makin lama saya semakin cemas. Bagaimana kalau kami sudah melewatinya? Akhirnya saya bertanya pada ibu-ibu melayu yang duduk di bangku di belakang saya bersama anaknya (dalam bahasa Indonesia). Dia mau saja membantu, tapi dia sudah turun sebelum si bus mencapai Batu Caves.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tahan dengan ketidakpastian ini, akhirnya saya berinisiatif menghampiri si supir melayu, yang sejak saya membayar ongkos selalu terlihat merengut, tidak bersahabat. Ah, cuek saja. Saya bilang padanya, "I want to go to Batu Caves. Can you please stop the bus if we get there?". Wah, tampangnya tidak berubah. Sepertinya tidak mendengar saya. Sial, pikir saya, sambil kembali ke tempat duduk dengan perasaan sedih, takut terdampar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, beberapa saat kemudian, terdengar suara si sopir berseru-seru, "Batu Caves! Batu Caves!". Hiks, saya terharu! Ternyata si sopir, meski tampangnya jutek, hatinya baik :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turun di halte tersebut, saya melihat gerbang berukir yang khas di seberang sana. Tak salah lagi, itu Batu Caves! Maka menyeberanglah kami dan mendekati objek wisata tersebut. Dari luar gerbang, patung Murugan yang diklaim tertinggi di dunia, mencapai 42,7 meter, terlihat breathtaking. Apalagi begitu kami dekati. Di sebelahnya, sebanyak 272 anak tangga yang mesti kami tempuh untuk mencapai semacam goa kelelawar dengan banyak stalaktit (atau stalagmit?) dan patung-patung Hindu terlihat menggetarkan sekaligus menggemporkan. Karena sudah jam 1 lebih dan perut kami keroncongan, kami memutuskan untuk makan dulu di salah satu restoran India di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas potret sana-sini, panjat sana-sini, kami mendapati bahwa objek wisata inilah yang&amp;nbsp;paling banyak&amp;nbsp;menghabiskan memori kamera kami. Habis, apalagi objek yang menarik di KL? :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu sudah menunjukkan pukul 5 ketika kami memutuskan untuk cabut dari Batu Caves dan kembali ke Bukit Bintang. Jadi berjalanlah kami keluar dari gerbang, lalu belok kanan dan menunggu di halte di sebelah toko yang menjual bunga-bunga (sesuai petunjuk orang yang kami tanyai). Tak lama, lewatlah bis U06 dan berangkatlah kami ke Stasiun Titiwangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bukit Bintang, kami memutuskan untuk indehoi di mal-mal seperti Sungei Wang yang terkenal itu dan nongkrong di Borders di Berjaya Times Square yang katanya terbesar di Asia Tenggara. Ternyata eh ternyata, toko buku Borders-nya kecil banget, jauh lebih gede di Orchard, Singapura. Tapi saya cukup puas muter-muter Sungei Wang meskipun sekadar window shopping. Karena lapar, kami memutuskan untuk makan di restoran yang tampaknya ramai di Bintang Walk. Namanya Chee Meng. Ada websitenya lho di www.cheemeng.com.my. Rasanya memang sedaaap :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sudah jam 10 lewat, kembalilah kami ke hostel. Sebelumnya mampir dulu di supermarket dekat hotel untuk membeli 2 botol air mineral ukuran 1 Liter. Hmm, besok ke mana ya? :D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6580342372534527552-7333515687667002082?l=backpacker-wannabe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://backpacker-wannabe.blogspot.com/feeds/7333515687667002082/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://backpacker-wannabe.blogspot.com/2009/11/jadwal-di-kl-day-two.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6580342372534527552/posts/default/7333515687667002082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6580342372534527552/posts/default/7333515687667002082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://backpacker-wannabe.blogspot.com/2009/11/jadwal-di-kl-day-two.html' title='Jadwal di KL, day two'/><author><name>keshie hernitaningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12617926575889130887</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6580342372534527552.post-3676098391493884406</id><published>2009-11-17T13:41:00.002+07:00</published><updated>2009-11-17T13:48:17.967+07:00</updated><title type='text'>Jadwal di KL, day one</title><content type='html'>Karena belum lama ini saya sowan ke Kuala Lumpur, Malaysia, berdua dengan teman saya (perempuan juga), saya masih menyimpan jadwal perjalanan selama di sana dan ingin membaginya di sini. Siapa tahu berguna :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadwal pesawat:&lt;br /&gt;AirAsia AK393 Jakarta - KL&lt;br /&gt;Sabtu, 3 Oktober 2009&lt;br /&gt;20.30 - 23.30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AirAsia AK392 KL - Jakarta&lt;br /&gt;Selasa, 6 Oktober 2009&lt;br /&gt;19.00 - 20.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Day 1 (Sabtu, 3 Oktober 2009)&lt;br /&gt;20.30 berangkat ke KL&lt;br /&gt;23.30 tiba di bandara LCCT, langsung check in di Tune Hotel (jalan kaki sekitar 7 menit)&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Urusan imigrasi di LCCT bisa dilalui dengan mudah. Saya sengaja pakai bahasa Inggris biar enggak disangka TKW :p Petugasnya (pria, cukup ganteng) sempat bertanya: "Holiday?" (sambil mengamati formulir imigrasi yang saya serahkan).&amp;nbsp;"Yes," jawab saya. "How many days?" tanyanya lagi. "Four days," jawab saya. Lalu dia langsung membubuhkan cap di paspor saya. Teman saya, Ajeng, gantian maju di belakang saya. Katanya, dia cuma ditanyai sekali saja oleh si petugas, "You're with her?" :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tidak ada bagasi--koper sengaja dibawa masuk kabin--kami langsung berjalan ke luar bandara. Sepanjang jalan, ada banyak salesman yang menawarkan transportasi ini-itu. Saya jadi ingat niat membeli tiket Sky Bus ke KL Sentral. Begitu ketemu loketnya, kami langsung membeli dua tiket Sky Bus LCCT - KL Sentral pulang-pergi (tarif per tiket 9 RM).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di luar, saya sempat kehilangan orientasi. Di manakah si Tune Hotel yang katanya dekat sekali dengan bandara itu? 7 menit jalan kaki, begitu klaimnya di website. Tak tahan kebingungan, saya bertanya pada seseorang berseragam petugas. Dia langsung menunjukkan tangannya ke satu arah, dan ternyata dari tempat saya berdiri saya bisa melihat Tune Hotel. Mestinya sih ada semacam mobil shuttle yang bisa membawa kami ke sana (bayar 1 RM per orang), tapi sepertinya sudah tidak beroperasi karena saat itu sudah hampir pukul 1 pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena haus, kami memutuskan untuk membeli minum dulu di food court dekat situ. Ada semacam 7 Eleven yang masih buka, dan saya sengaja membeli sebotol susu ukuran medium buat sarapan besok--biar badan fit terus. Setelah itu, kami menyusuri jalan di luar food court yang mengarah ke parkiran mobil, lalu tinggal berjalan lurus ke arah hotel. Kondisi jalannya agak rusak, karena memang tidak dirancang untuk dilewati koper, sehingga kami mesti beberapa kali menentengnya untuk menjaga kesehatan roda koper. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, sampai juga! Kira-kira butuh 10 menit dengan kondisi jalan demikian. Lobi hotel, meski waktu itu sudah memasuki subuh, terlihat ramai dengan turis bule. Saya segera mengantri sambil menyiapkan print-out konfirmasi booking. Begitu tiba giliran saya, petugasnya (seorang India bertubuh tinggi-besar) meminta paspor saya lalu uang deposit (kalau enggak salah 10 RM). "Apakah ingin menambah layanan, handuk atau lainnya?" tanyanya, yang langsung saya jawab dengan, "Tidak." :p Kalau mau hemat tinggal di sini, bawalah handuk dan peralatan mandi sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamar kami ada di lantai 1, jadi kami cuma butuh naik satu lantai ketika memakai lift. Ketika masuk ke kamar, walah, mungil sekali! Tapi saya menyukai kasurnya yang besar dan empuk, mirip kasur di hotel bintang lima, meskipun ukurannya memakan sebagian besar ruang di kamar tersebut. Pun ada kaca selebar dinding di atas tempat tidur, mungkin untuk menambah kesan luas. Yang saya takjub, disediakan pula brankas kecil layaknya di hotel mahal. Kamar mandinya yang dilengkapi dengan shower dan wastafel juga didesain dengan bagus. Singkatnya, kamar yang mungil tapi cantik. Dan ternyata memang tidak perlu memesan AC (biar enggak keluar biaya lagi), karena kipas anginnya yang berukuran sangat besar sudah lebih dari cukup untuk mendinginkan suhu kamar. Mau tahu berapa harga kamar ini ketika saya membookingnya pada bulan Maret 2009? Cuma 64 ribu rupiah untuk 1 kamar, 1 malam :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berperang dengan diri sendiri apakah saya perlu mandi malam ini atau tidak, akhirnya saya mandi lalu tidur--menghimpun energi untuk menghadapi esok hari.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6580342372534527552-3676098391493884406?l=backpacker-wannabe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://backpacker-wannabe.blogspot.com/feeds/3676098391493884406/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://backpacker-wannabe.blogspot.com/2009/11/jadwal-di-kl-day-one.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6580342372534527552/posts/default/3676098391493884406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6580342372534527552/posts/default/3676098391493884406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://backpacker-wannabe.blogspot.com/2009/11/jadwal-di-kl-day-one.html' title='Jadwal di KL, day one'/><author><name>keshie hernitaningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12617926575889130887</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6580342372534527552.post-1652447255107355921</id><published>2009-11-03T15:20:00.003+07:00</published><updated>2009-11-03T15:24:20.163+07:00</updated><title type='text'>Buku lagi buku lagi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_L5m61_2kYGQ/Su_nunjbUuI/AAAAAAAAADs/fcK9h8-OFKM/s1600-h/PICT0014+nu.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_L5m61_2kYGQ/Su_nunjbUuI/AAAAAAAAADs/fcK9h8-OFKM/s320/PICT0014+nu.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Sebagai orang yang suka sekali membaca, saya senang sekali main ke toko buku setiap kali ke luar negeri. Waktu ke Singapura bersama teman-teman, saya main ke Bras Basah dan menemukan banyak buku seken yang saya cari dengan harga murah (sekitar 30 ribu rupiah). Di Taipei, saya berkunjung ke Page One yang berada di dalam Taipei 101 Mall dan dua cabang Eslite yang sangat populer di sana karena buka sampai 24 jam (kebetulan letaknya tidak terlalu jauh dari Hotel Grand Hyatt tempat saya menginap, jadi saya tinggal jalan kaki).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ada kejadian menarik sewaktu saya sedang mencari-cari lokasi Eslite seorang diri, jalan kaki dari hotel, berbekal peta kecil yang diberikan oleh pihak hotel. Ketika sedang celingukan, bingung karena tidak menemukan nama jalan yang saya cari, saya coba bertanya pada seorang gadis cantik yang sedang lewat. Saya tunjukkan peta itu, yang di dalamnya tertera tulisan Eslite dalam bahasa Inggris maupun Cina, lalu saya bertanya: Where is this?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa kagetnya saya karena ternyata dia tuli dan berbicara layaknya Marlee Matlin di serial televisi zadul Reasonable Doubts yang dulu sangat saya gandrungi (Mark Harmon ganteng banget di situ :p). Dia baik sekali. Ketika saya tidak memahami jawabannya, ia mengisyaratkan supaya saya mengikutinya. Ternyata dia juga bermaksud mendatangi toko buku tersebut, jadi saya tinggal mengekor saja. Andai saya tidak bertanya, besar kemungkinan saya akan selamanya sesat di jalan, karena si Eslite ternyata ada di dalam gedung pertokoan yang dari luar tidak terlihat seperti pertokoan :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Kali keempat saya ke Singapura, kali ini seorang diri, saya memuaskan diri dengan sowan ke Borders, Kinokuniya, dan Harris. Kecuali Kinokuniya, waktu itu sedang ada sale sampai 50%, jadilah saya pulang ke tanah air membawa oleh-oleh buku. Di Kuala Lumpur belum lama ini, saya dan seorang teman juga sukses membeli beberapa buku di Borders dan Kinokuniya. Sayang, kami sempat kecewa berat karena Borders di mal Berjaya Group Berhad, yang diklaim sebagai Borders kedua terbesar di dunia, ternyata lebih kecil dibandingkan cabang Singapura. Katanya sih toko buku ini dulunya memang sangat besar, tapi kemudian direnovasi sehingga hanya menempati satu lantai. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Kadang-kadang saya mikir, ngapain ke luar negeri malah beli buku? Tapi ya saya memang menikmatinya. Saya jarang sekali belanja baju, kecuali waktu di Bangkok, karena saya sudah jatuh cinta dengan produk distro Bandung dan tak mau pindah ke lain hati. Sedangkan buku, well, it's just seems worth it to buy anywhere. Tapi saya selalu membelinya pas ada diskon saja kok, kecuali waktu di Eslite. Saya "terpaksa" membeli sebuah novel supaya punya kenang-kenangan saja (berhubung sedang tidak ada diskon), karena siapa tahu saya tidak berkesempatan ke sana lagi :p&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, soal distro Bandung, saya sempat mengalami kejadian lucu sewaktu menemani teman membeli coklat di salah satu toko di KLCC Suria Mall. Sementara teman saya memilih coklat, saya yang sedang berdiri di depan kasir, mendapati sang kasir, seorang pemuda bertampang melayu, berulang kali menatap saya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Kenapa dia? pikir saya. Akhirnya kebingungan saya terjawab ketika dia tiba-tiba berkata: Baju, Ouval. Tas, Gummo. Pasti orang Indonesia ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waa, saya senang sekali, ternyata ada yang mengenali produk buatan anak bangsa! Saya langsung bertanya: Kamu dari Indonesia? Tapi cuma ditanggapinya dengan senyam-senyum tanpa mengkonfirmasi. Dugaan saya sih, kalau dia bukan orang Indonesia, mungkin dia anak muda Malaysia yang juga ngefans sama distro Bandung :D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6580342372534527552-1652447255107355921?l=backpacker-wannabe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://backpacker-wannabe.blogspot.com/feeds/1652447255107355921/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://backpacker-wannabe.blogspot.com/2009/11/buku-lagi-buku-lagi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6580342372534527552/posts/default/1652447255107355921'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6580342372534527552/posts/default/1652447255107355921'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://backpacker-wannabe.blogspot.com/2009/11/buku-lagi-buku-lagi.html' title='Buku lagi buku lagi'/><author><name>keshie hernitaningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12617926575889130887</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_L5m61_2kYGQ/Su_nunjbUuI/AAAAAAAAADs/fcK9h8-OFKM/s72-c/PICT0014+nu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6580342372534527552.post-4998613125740917185</id><published>2009-11-03T14:13:00.001+07:00</published><updated>2009-11-03T14:18:24.599+07:00</updated><title type='text'>Taktik dagang yang bikin shock</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_L5m61_2kYGQ/Su_X9CTfsGI/AAAAAAAAADk/zZu_yC4VkGc/s1600-h/IMG_7605.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_L5m61_2kYGQ/Su_X9CTfsGI/AAAAAAAAADk/zZu_yC4VkGc/s320/IMG_7605.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Selain tertipu uang palsu, ada pengalaman tak terlupakan lainnya yang sempat saya alami selama berada di Beijing. Waktu itu kami berempat memutuskan untuk belanja di Silk Street, semacam ITC, yang katanya sih sangat populer di kalangan turis. Jadi termasuk salah satu tempat yang wajib dikunjungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya sudah browsing di internet soal tips shopping di Beijing, tapi toh tetap saja saya tidak siap menghadapi taktik dagang para penjual di sana yang, saking hebohnya, sampai sukses bikin salah seorang teman saya (kebetulan berkelamin laki-laki) shock berat :p&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Taktiknya kira-kira begini. Berbekal kalkulator ukuran gede, si penjual akan berteriak-teriak menawarkan produknya. Jika Anda tertarik dan berhenti untuk menawar, misalnya 50% lebih murah dari harga yang disebutkan, jangan heran jika Anda langsung ditarik masuk ke dalam toko, dan tidak akan dibiarkan keluar sampai Anda mau membeli barang tersebut. Karena beda bahasa, komunikasi akan berlangsung via kalkulator, dengan si penjual memencet angka dengan lagak pura-pura kesal karena harus banting harga, dan kita mencoba tegar dan terus bertahan di harga yang kita sebut pertama kali. Saking keukeuh-nya si pedagang mempertahankan Anda di tokonya, jangan kaget jika tangan Anda sampai ditarik-tarik segala dengan kasarnya (inilah yang bikin teman saya sampai shock :p).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan saya ketahui bahwa menawar 50% dari harga yang disebutkan si penjual merupakan kesalahan yang sangat fatal. Yang benar, tawarlah sampai 10%-nya (karena memang harga yang dibuka amat-sangat tinggi dari harga yang sebenarnya), baru kemudian bernegosiasi. Tak heran, ketika seorang turis mengajukan penawaran sampai 50% harga awal, si penjual merasa luar biasa girang karena sudah menemukan korban yang tepat, dan karena itu keukueh mempertahankannya sampai titik darah penghabisan (baca: menarik-narik tangan Anda sekuat mungkin supaya jangan sampai kabur dari tokonya). Kalau saja sejak semula Anda menawar sampai 10% dari harga awal, jangan harap si pedagang akan menanggapi Anda, apalagi mengundang Anda masuk ke tokonya. Karena dia tahu bahwa Anda sudah familiar dengan taktik dagangnya sehingga triknya tidak akan berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang sudah curiga dengan jaket tebal yang saya beli (setelah berjibaku dengan si mbak-mbak penjualnya) seharga 200 ribuan rupiah. Karena katanya belanja di Cina itu murah, tidak sampai 50 ribu rupiah. Tapi syukurlah, menurut orang Indonesia yang tinggal di Cina yang kami temui setelah kejadian tersebut, penawaran yang saya buat sudah cukup bagus untuk ukuran turis yang baru pertama kali sowan ke situ. Banyak temannya yang mengalami kerugian jauh lebih parah. Hmm, mudah-mudahan sih dia ngomong begitu bukan karena ingin membesarkan hati saya saja :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya paling kasihan dengan para turis bule. Dari tampangnya, mereka sepertinya tidak hanya shock, tapi stres sekali menghadapi kelakuan para pedagang di Silk Street. Saya maklum sih, karena budaya tawar-menawar dengan perbedaan harga yang ekstrim sebenarnya bukan hal yang asing bagi masyarakat kita (nyokap saya misalnya, bisa "tega" sekali menawar suatu barang selagi berbelanja di pasar. Beda sekali dengan saya yang lebih suka berbelanja di supermarket/mal supaya tidak perlu menawar apapun :p). Sedangkan para bule itu mungkin seumur hidup baru kali ini mengalaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saran saya, sebaiknya hindari berbelanja di area yang banyak dikunjungi turis. Apalagi kalau Anda sama seperti saya, paling malas kalau disuruh tawar-menawar. Pergilah ke mal atau toko yang menjual barang dengan harga pasti. Saya sempat berjalan-jalan di area sekitar hotel tempat saya menginap waktu itu, dan menemukan toko yang khusus menjual aksesori khas Olimpiade Beijing 2008. Kualitas barangnya bagus, statusnya tak terlupakan (produk resmi olimpiade gitu, lho), dan harganya juga cukup terjangkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dekat situ, saya berpapasan pula dengan semacam pasar kaget yang sepertinya menjual barang-barang murah karena ramai pengunjung. Sayang, saya dilarang masuk oleh dua orang penjaganya (tidak berpakaian seragam). Karena bahasanya enggak nyambung, saya enggak ngerti kenapa saya dilarang masuk. Tapi dugaan saya sih gara-gara status saya yang seorang turis, sedangkan pasar tersebut ditujukan bagi penduduk lokal.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6580342372534527552-4998613125740917185?l=backpacker-wannabe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://backpacker-wannabe.blogspot.com/feeds/4998613125740917185/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://backpacker-wannabe.blogspot.com/2009/11/taktik-dagang-yang-bikin-shock.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6580342372534527552/posts/default/4998613125740917185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6580342372534527552/posts/default/4998613125740917185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://backpacker-wannabe.blogspot.com/2009/11/taktik-dagang-yang-bikin-shock.html' title='Taktik dagang yang bikin shock'/><author><name>keshie hernitaningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12617926575889130887</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_L5m61_2kYGQ/Su_X9CTfsGI/AAAAAAAAADk/zZu_yC4VkGc/s72-c/IMG_7605.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6580342372534527552.post-8133350615819739329</id><published>2009-10-22T16:22:00.003+07:00</published><updated>2009-10-22T16:41:31.825+07:00</updated><title type='text'>Tertipu uang palsu di Beijing</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_L5m61_2kYGQ/SuAlWK_HD8I/AAAAAAAAAC4/CRfWQ_eRuwU/s1600-h/IMG_7772+nu.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_L5m61_2kYGQ/SuAlWK_HD8I/AAAAAAAAAC4/CRfWQ_eRuwU/s320/IMG_7772+nu.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Brrr! Saya dan dua rekan wartawan serta satu pendamping dari vendor yang mengundang kami langsung disambut oleh udara yang dinginnya menusuk sampai ke tulang sewaktu melangkah keluar dari bandara Beijing Capital International. Suhu terendah di ibukota Cina ini pada bulan April, bulan kedatangan saya waktu itu (tahun 2007), memang bisa mencapai 7 derajat Celcius! Untungnya, saya sudah mempersenjatai diri dengan baju dobel, jaket tebal (saya beli khusus untuk perjalanan ini dengan harga murah di factory outlet :p), dan kaus kaki yang juga tebal. Sayang banget kan kalau sampai jatuh sakit cuma gara-gara cuaca.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ada kejadian lucu tentang udara dingin ini. Sewaktu saya dan wartawan yang lain duduk menunggu di dalam bis yang akan membawa kami kembali ke hotel sehabis dinner bersama (kira-kira jam 9 malam), saya terbengong-bengong mendapati seorang gadis berjalan melewati bis kami sambil menjilati es krim. Bisa-bisanya dia makan begituan di cuaca sedingin ini! Tapi yah, namanya juga penduduk asli, tingkat kekebalannya pasti beda ya :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Beijing, meski suasana kotanya terasa "dingin" dan kaku, toh layak dikunjungi karena ada banyak sekali pusat wisata bersejarah yang sayang sekali kalau dilewatkan. Saya beruntung ditemani oleh pendamping yang sama-sama belum pernah ke sini, sehingga dia sama excited-nya dengan saya untuk melihat-lihat semua objek yang ada. Jadi pergilah kami ke Tiananmen Square yang legendaris itu, Forbidden City, hingga, tentunya, The Great Wall. Wah, tak terkirakan girangnya saya bisa ke sini. Terus terpilih sebagai salah satu dari 7 Wonders of the World, lokasi ini memang breathtaking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pengalaman paling "menarik" bagi saya selama di Cina adalah ketika kami mampir ke Summer Palace. Di sini, setelah hampir selesai mengelilingi kompleksnya yang cukup luas, kami bersua dengan beberapa pedagang kaos murah. Kalau dirupiahkan, kira-kira harganya jadi 20 ribu rupiah per kaos. Kami yang tadinya terus menolak, akhirnya tertarik juga. Apalagi kualitasnya lumayan bagus dan gambarnya juga oke. Selesai memilah-milih dan akan membayar, saya ingat si pedagang menerima uang saya, menyimpannya, lalu tiba-tiba marah-marah, mengatakan uang saya cacat. Dia minta diganti. Dengan sedikit bingung, saya tukar uang tersebut dengan yang baru. Lalu, ada pedagang lainnya yang bilang bersedia menukar uang 100 yuan saya dengan dua lembar 50 yuan. Saya menolak. Tapi ternyata teman-teman saya bersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman ini mungkin tidak akan jadi "menarik" jika belakangan tidak kami ketahui bahwa ternyata uang hasil transaksi kami dengan mereka (ya uang kembalian, uang hasil menukar) ternyata palsu adanya. Yes, shit do happens :p Dan saya cukup sebal karena guide kami kurang tanggap, tidak mewanti-wanti kami soal maraknya penipuan dengan cara ini di area pusat wisata. Dia baru ngomong setelah dia melihat uang palsu kami. Triknya licik juga, dia sengaja menerima uang saya dulu, lalu mengeluarkan uang palsunya yang dirobek sedikit, lalu memanfaatkan kebegoan saya (enggak tahu kondisi uang saya sendiri) dengan mengatakan uang saya cacat lalu minta ditukar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat seorang rekan wartawan dari Malaysia sempat ngomong, setelah mendengar pengalaman kami, bahwa hal semacam ini bisa jadi aib yang memalukan bagi Cina yang saat itu sedang mempersiapkan Beijing sebagai tuan rumah Olimpiade 2008. Saya juga jadi sadar, bahwa saya cenderung lebih off-guard, kurang waspada, jika sowan ke suatu negara memakai pendamping dan guide seperti ini. Jika bepergian seorang diri atau dengan teman-teman, mungkin saya tidak akan semudah itu termakan rayuan si pedagang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lucu, salah satu dari kami, yang rugi cukup banyak gara-gara penipuan itu, sempat nekat menukarkan selembar uang palsunya di money changer bandara tempat kami transit (tidak perlu saya sebutkan di sini :p). Kami sudah mewanti-wantinya supaya jangan melakukannya, khawatir ketahuan, lalu kami disangka terlibat, kan bisa berabe :p Tapi toh dia coba juga. Dan ternyata pihak money changer tersebut percaya saja dan mau menerima si uang palsu :D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6580342372534527552-8133350615819739329?l=backpacker-wannabe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://backpacker-wannabe.blogspot.com/feeds/8133350615819739329/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://backpacker-wannabe.blogspot.com/2009/10/tertipu-uang-palsu-di-beijing.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6580342372534527552/posts/default/8133350615819739329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6580342372534527552/posts/default/8133350615819739329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://backpacker-wannabe.blogspot.com/2009/10/tertipu-uang-palsu-di-beijing.html' title='Tertipu uang palsu di Beijing'/><author><name>keshie hernitaningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12617926575889130887</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_L5m61_2kYGQ/SuAlWK_HD8I/AAAAAAAAAC4/CRfWQ_eRuwU/s72-c/IMG_7772+nu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6580342372534527552.post-2129464253358951615</id><published>2009-10-20T15:37:00.004+07:00</published><updated>2009-10-20T15:49:44.912+07:00</updated><title type='text'>Bebas visa euy!</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_L5m61_2kYGQ/St13wZamfTI/AAAAAAAAACw/SNGli9hEg_c/s1600-h/sample-usa-visa.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_L5m61_2kYGQ/St13wZamfTI/AAAAAAAAACw/SNGli9hEg_c/s320/sample-usa-visa.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Saya iri pada pemegang paspor Singapura yang boleh bertandang ke negara mana saja di dunia ini tanpa perlu apply dan merogoh kocek yang cukup lumayan (menurut ukuran saya) untuk mendapatkan visa. Tapi daripada buang-buang energi mengeluhkan hal-hal yang memang sudah enggak bisa diapa-apain lagi, mari kita simak saja negara-negara mana saja yang membolehkan pemegang paspor Indonesia masuk ke negaranya tanpa visa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Asia&lt;br /&gt;Brunei: 14 hari&lt;br /&gt;Kamboja: 30 hari (Visa On Arrival)&lt;br /&gt;Hong Kong: 30 hari&lt;br /&gt;Iran: 7 hari (VOA dengan surat sponsor)&lt;br /&gt;Yordania: 30 hari (VOA)&lt;br /&gt;Laos: 15 hari (VOA)&lt;br /&gt;Macau: 30 hari&lt;br /&gt;Malaysia: 30 hari&lt;br /&gt;Maladewa: 30 hari (VOA)&lt;br /&gt;Filipina: 21 hari&lt;br /&gt;Singapura: 30 hari&lt;br /&gt;Sri Lanka: 30 hari (VOA)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Thailand: 30 hari &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Timor Leste: 30 hari (VOA)&lt;br /&gt;Vietnam: 30 hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Afrika&lt;br /&gt;Maroko: 90 hari&lt;br /&gt;Seychelles: 30 hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oseania&lt;br /&gt;Fiji: 120 hari&lt;br /&gt;Guam: 14 hari (Guam Visa Waiver Program)&lt;br /&gt;Mikronesia: 30 hari&lt;br /&gt;Palau: 30 hari (VOA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amerika Selatan&lt;br /&gt;Chile: 90 hari&lt;br /&gt;Kolomboa: 90 hari&lt;br /&gt;Peru: 90 hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: milis indobackpacker&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6580342372534527552-2129464253358951615?l=backpacker-wannabe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://backpacker-wannabe.blogspot.com/feeds/2129464253358951615/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://backpacker-wannabe.blogspot.com/2009/10/bebas-visa-euy.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6580342372534527552/posts/default/2129464253358951615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6580342372534527552/posts/default/2129464253358951615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://backpacker-wannabe.blogspot.com/2009/10/bebas-visa-euy.html' title='Bebas visa euy!'/><author><name>keshie hernitaningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12617926575889130887</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_L5m61_2kYGQ/St13wZamfTI/AAAAAAAAACw/SNGli9hEg_c/s72-c/sample-usa-visa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6580342372534527552.post-8415494577852683719</id><published>2009-10-20T14:38:00.001+07:00</published><updated>2009-10-20T15:00:49.112+07:00</updated><title type='text'>Traveling differently ala Coelho</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_L5m61_2kYGQ/St1owU2Mf1I/AAAAAAAAACo/E0lQSfI5xb8/s1600-h/IMG_0746+nu.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_L5m61_2kYGQ/St1owU2Mf1I/AAAAAAAAACo/E0lQSfI5xb8/s320/IMG_0746+nu.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Sebenarnya apa sih yang dicari dengan sering traveling ke sana ke sini? Ingin menambah pengalaman hidup atau sekadar kepingin mengabadikan foto-foto narsis untuk dipamerkan di Facebook? Jawabannya pasti relatif sekali dan tidak sesederhana itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Saya sendiri baru memulai "petualangan" saya sejak tahun 2006, yakni ketika saya pertama kali mendapat tugas liputan ke Singapura. Rasanya senang sekali, bisa mencicipi seperti apa rasanya tinggal (walau cuma beberapa hari) di negeri orang. Saya jadi ketagihan. Apalagi kemudian saya menemukan partner traveling yang asyik banget, yang kebetulan satu kantor dengan saya. Sudah beberapa kali kami pergi bareng, dan makin hari rencana-rencana kami makin "gila" saja. Habis ke sini, pingin ke situ, apalagi kalau pas ada tiket murah (AirAsia). Langsung serbu tanpa babibu lagi :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So far, setelah berkesempatan sowan ke Yogyakarta, Bali, Singkawang, dan beberapa kota di negara tetangga selama tiga tahun ini (Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, Taipei, Beijing), saya paling menikmati pengalaman keliling kota menggunakan transportasi publik, terutama monorail (karena enggak ada di Indonesia :p). Senang sekali rasanya mendapati tinggal di negara yang lebih maju dengan tingkat kemacetan sangat rendah. Bahkan di Bangkok dan KL yang katanya termasuk macet itu, saya tidak menemuinya. Bis-bis di Bangkok memang termasuk bobrok (saya belum pernah menaikinya, hanya memandang dari jauh :p), lain sekali dengan bis-bis di KL yang nyaman dan dilengkapi AC. Tapi transportasi MRT di ibukota Thailand tersebut keren punya. Again and again, saya bertanya-tanya, kapan negeri saya punya yang beginian??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke kalimat pembuka saya, apa sih yang dicari? Saya ingin mengutip salah satu postingan di blog Paul Coelho (penulis buku-buku beken seperti The Alchemist, The Fifth Mountain, dan The Witch of Portobello) yang berjudul Travelling differently (&lt;a href="http://paulocoelhoblog.com/2008/02/07/travelling-differently/"&gt;http://paulocoelhoblog.com/2008/02/07/travelling-differently/&lt;/a&gt;). Isinya kira-kira adalah tips jalan-jalan dari Coelho, berdasarkan pengalaman pribadinya. Hal-hal apa saja yang layak Anda perhatikan/lakukan/jangan lakukan supaya pengalaman traveling Anda makin bermakna. Tapi sekali lagi saya katakan, alasan traveling seseorang itu sangatlah relatif. Sifatnya juga sangat pribadi, jadi kalau Anda tidak setuju dengan salah satu tips yang disebutkan Coelho, ya sah-sah saja :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Travelling differently&lt;br /&gt;by Paul Coelho&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #444444; font-family: 'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 19px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 13px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;I realised very early on that, for me, travelling was the best way of learning. I still have a pilgrim soul, and I thought that I would use this column to pass on some of the lessons I have learned, in the hope that they might prove useful to other pilgrims like me.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 13px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;1.&amp;nbsp;&lt;strong style="font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Helvetica, Arial, sans-serif; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Avoid museums.&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;This might seem to be absurd advice, but let’s just think about it a little: if you are in a foreign city, isn’t it far more interesting to go in search of the present than of the past? It’s just that people feel obliged to go to museums because they learned as children that travelling was about seeking out that kind of culture. Obviously museums are important, but they require time and objectivity - you need to know what you want to see there, otherwise you will leave with a sense of having seen a few really fundamental things, except that you can’t remember what they were.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 13px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;2.&amp;nbsp;&lt;strong style="font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Helvetica, Arial, sans-serif; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Hang out in bars.&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;Bars are the places where life in the city reveals itself, not in museums. By bars I don’t mean nightclubs, but the places where ordinary people go, have a drink, ponder the weather, and are always ready for a chat. Buy a newspaper and enjoy the ebb and flow of people. If someone strikes up a conversation, however silly, join in: you cannot judge the beauty of a particular path just by looking at the gate.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 13px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;3.&amp;nbsp;&lt;strong style="font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Helvetica, Arial, sans-serif; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Be open.&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;The best tour guide is someone who lives in the place, knows everything about it, is proud of his or her city, but does not work for any agency. Go out into the street, choose the person you want to talk to, and ask them something (Where is the cathedral? Where is the post office?). If nothing comes of it, try someone else - I guarantee that at the end of the day you will have found yourself an excellent companion.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 13px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;4.&amp;nbsp;&lt;strong style="font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Helvetica, Arial, sans-serif; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Try to travel alone or - if you are married - with your spouse.&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;It will be harder work, no one will be there taking care of you, but only in this way can you truly leave your own country behind. Traveling with a group is a way of being in a foreign country while speaking your mother tongue, doing whatever the leader of the flock tells you to do, and taking more interest in group gossip than in the place you are visiting.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 13px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;5.&amp;nbsp;&lt;strong style="font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Helvetica, Arial, sans-serif; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Don’t compare.&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;Don’t compare anything - prices, standards of hygiene, quality of life, means of transport, nothing! You are not traveling in order to prove that you have a better life than other people - your aim is to find out how other people live, what they can teach you, how they deal with reality and with the extraordinary.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 13px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;6.&amp;nbsp;&lt;strong style="font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Helvetica, Arial, sans-serif; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Understand that everyone understands you.&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;Even if you don’t speak the language, don’t be afraid: I’ve been in lots of places where I could not communicate with words at all, and I always found support, guidance, useful advice, and even girlfriends. Some people think that if they travel alone, they will set off down the street and be lost for ever. Just make sure you have the hotel card in your pocket and - if the worst comes to the worst - flag down a taxi and show the card to the driver.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 13px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;7.&amp;nbsp;&lt;strong style="font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Helvetica, Arial, sans-serif; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Don’t buy too much.&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;Spend your money on things you won’t need to carry: tickets to a good play, restaurants, trips. Nowadays, with the global economy and the Internet, you can buy anything you want without having to pay excess baggage.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 13px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;8.&amp;nbsp;&lt;strong style="font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Helvetica, Arial, sans-serif; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Don’t try to see the world in a month.&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;It is far better to stay in a city for four or five days than to visit five cities in a week. A city is like a capricious woman: she takes time to be seduced and to reveal herself completely.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 13px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 13px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;9.&amp;nbsp;&lt;strong style="font-family: 'Lucida Grande', 'Lucida Sans', 'Lucida Sans Unicode', Verdana, Helvetica, Arial, sans-serif; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;A journey is an adventure.&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;Henry Miller used to say that it is far more important to discover a church that no one else has ever heard of than to go to Rome and feel obliged to visit the Sistine Chapel with two hundred thousand other tourists bellowing in your ear. By all means go to the Sistine Chapel, but wander the streets too, explore alleyways, experience the freedom of looking for something - quite what you don’t know - but which, if you find it, will - you can be sure - change your life.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6580342372534527552-8415494577852683719?l=backpacker-wannabe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://backpacker-wannabe.blogspot.com/feeds/8415494577852683719/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://backpacker-wannabe.blogspot.com/2009/10/traveling-differently-ala-coelho.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6580342372534527552/posts/default/8415494577852683719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6580342372534527552/posts/default/8415494577852683719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://backpacker-wannabe.blogspot.com/2009/10/traveling-differently-ala-coelho.html' title='Traveling differently ala Coelho'/><author><name>keshie hernitaningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12617926575889130887</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_L5m61_2kYGQ/St1owU2Mf1I/AAAAAAAAACo/E0lQSfI5xb8/s72-c/IMG_0746+nu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6580342372534527552.post-4473774560815860446</id><published>2009-10-19T16:46:00.000+07:00</published><updated>2009-10-19T17:04:54.133+07:00</updated><title type='text'>Hiksss</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_L5m61_2kYGQ/Stw5Knf441I/AAAAAAAAACg/JunDGOS5GTg/s1600-h/!cid_004901c588d5%24e4fee9d0%2463260f0a@shintia.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/_L5m61_2kYGQ/Stw5Knf441I/AAAAAAAAACg/JunDGOS5GTg/s200/!cid_004901c588d5%24e4fee9d0%2463260f0a@shintia.jpg" width="183" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Hiks sedihnya! Website narsis saya (www.keshie.com) bolak-balik mati, padahal saya cukup rajin ngeblog di situ. &lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Akhirnya, daripada mati gaya (berhenti blogging), saya memutuskan untuk menghidupkan blog baru. Setelannya mirip dengan blog lama saya di Blogger (www.my-riverofdreams.blogspot.com), tapi saya berencana mendedikasikan blog ini untuk merekam pengalaman saya selama traveling yang masih jauh dari banyak itu. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ah, mudah-mudahan saja nanti website narsis saya hidup lagi, biar saya bisa memindahkan postingan-postingan tentang travel saya ke sini. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Akhir kata, selamat membaca and I hope you'll enjoy it as much as I'm writing it :)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6580342372534527552-4473774560815860446?l=backpacker-wannabe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://backpacker-wannabe.blogspot.com/feeds/4473774560815860446/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://backpacker-wannabe.blogspot.com/2009/10/hiksss.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6580342372534527552/posts/default/4473774560815860446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6580342372534527552/posts/default/4473774560815860446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://backpacker-wannabe.blogspot.com/2009/10/hiksss.html' title='Hiksss'/><author><name>keshie hernitaningtyas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12617926575889130887</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_L5m61_2kYGQ/Stw5Knf441I/AAAAAAAAACg/JunDGOS5GTg/s72-c/!cid_004901c588d5%24e4fee9d0%2463260f0a@shintia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
